BALI MANDARA, DAN PEWARISAN NILAI FILOSOFINYA (Bedah Buku BAPPEDA BALI: BALI MANDARA, ESTAFETA UNTUK GENERASI MUDA)

Oleh: putu sastra wingarta

 

Bab I : Latar belakang:

  • Isn’t Bali Spoiled? (Bab I Pendahuluan)> pertanyaaan berkaitan dengan jaminan kelangsungan hidup.

Tanggapan:

  • Bali sebagai bagian dari negara (NKRI), seperti halnya negara adalah organisme yang bisa lahir, hidup dan mati, maka pertanyaannya apakah Bali akan membusuk, lalu kehilangan jati diri seperti halnya Kampung Bali di Jakarta
  • Kata-kata Bali Mandara pertama kali terlontar datang dari konsep saya> datang dari tulisan saya, setelah Made Mangku Pastika menawarkan sebuah konsep membangun Bali dengan cara menjadikan Bali yang  Maju, Aman, Damai dan Sejahtera.[1]
  • Konsep itu saya akronimkan menjadi MANDARA yang sekaligus mengandung arti Agung> yang selanjutnya saya sebut sebagai konsep BALI MANDARA> yang perlu dicarikan landasan teorinya> Teorinya; Ketahanan Nasional. (National Relilience)[2]
  • Seperti halnya Ketahanan Nasional yang sebagai kondisi maupun konsepsi> Bali Mandara juga adalah konsepsi selain kondisi. Sebagai kondisi> dalam konteks bernegara Indonesia Bali Mandara menjadi bagian dari kondisi yang diharapkan oleh amanat pembukaan UUD 1945>cerdas , sejahtera, terlindungi dan ikut berpartisipasi dengan lingkungan.(Bali yang cerdas, Bali yang sejahtera, Bali yang terlindungi selain melindungi dirinya sendiri dan berkontribusi dalam tataran nasional maupun dunia).
  • Sebagai konsepsi> Bali Mandara dapat dicapai dengan menggunakan konsep Jengah> Kondisi Bali Mandara yang hanya bisa diraih dengan menggunakan konsep Jengah[3]
  • Permasalahannya; bagaimana Konsep Bali Mandara dapat di ”estafetkan” (melalui proses transformasi) kepada generasi muda atau generasi penerus  Bali yang sudah terbukti, ketika di transformasikan kepada SDM di jajaran Pemprov Bali mampu menghasilkan hasil konkrit yang positif untuk menjamin kelangsungan hidup Bali kedepan. Seharusnyalah diyakini bahwa kelangsungan hidup Bali selama ini tidak terlepas dari campur tangan local genius Jengah yang berasal dari nilai-nilai instrinsik budaya Bali. Nilai-nilai jengah harus dapat di transformasikan ke dalam sistem kehidupan sosial generasi muda atau generasi penerus Bali sehingga mampu menghasil­kan public good dan nasionalisme yang menjamin kelangsungan hidup Bali yang berjati diri. Transformasi yang di maksud adalah bagaimana jengah di wujudkan dalam bentuk tindakan nyata sehingga ia tidak hanya sebatas konsep kebahasaan yang memiliki makna mendalam, tetapi menjadi pola tindakan yang dapat di rasakan. Transformasi adalah perubahan bentuk, tampilan atau struktur yang di sesuaikan dengan situasi dan kondisi , tanpa kehilangan nilai-nilai instrinsik atau dasarnya.
  • Permasalahan tersebut di jawab melalui dua pertanyaan, masing-masing ; Bagaimana nilai-nilai jengah di pahami dan di praktikkan dalam kehidupan social generasi muda atau generasi penerus yang mampu menciptakan public good di ling­kungan kehidupan social masyarakat di Bali, serta bagaimana transformasi nilai-nilai jengah dalam praktik nasionalisme di Bali yang mampu menciptakan Bali yang harmonis.
  • Permasalahan lain yang juga perlu mendapat jawaban, mengapa musti generasi muda semata. Justru menjadi penting bagi mereka yang dari kelompok mapan, stagnan yang dalam buku ini disebut sebagai pihak konservatif> prudent> yang puas dengan hanya merawat> revitalisasai kebudayaan> tidak yang terbuka dan lentur (justru ini ada pada kalangan muda> yang kelemahannya hanya tidak mampu mewarisi bila tidak dituntun> diteladani>transformasi menuntut seorang panutan untuk diteladani.
  • Peta Pikir:

pola pikir bali mandara

 

 

  • Refleksi Teoritis Jengah

teoritis jengah.jpg

Bab II > Pulau kaya peradaban namun mempertanyakan kelangsungan hidup

Tanggapan:

  • Inilah bab yang sebetulnya tempat berhitungnya antara potensi yang dimiliki untuk bertahan hidup dengan berbagai tantangan dan ancaman yang akan membuatnya menjadi busuk lalu berakhir seperti halnya Kampung Bali di Jakarta.
  • Bab ini bicara masalah nasionalisme Bali>potensi dan daya dukungnya> kondisi geografi dan demografinya> yang akan terus mengundang pertanyaan kesanggupan melangsungkan kehidupannya.
  • Bicara masalah kelangsungan hidupnya. Melakukan pembangunan> alih fungsi lahan di sarbagita> hidup mendua> antara pertanian dan modern> antara mengandalkan pajak bermotor dengan mencegah alih fungsi lahan> benci tapi rindu> benci perubahan tapi rindu kemajuan.
  • Ketika datang sebuah perubahan yang sangat tiba-tiba, ketika bom Bali mengungcang Bali (2002)> muncul reaksi konsep ‘Ajeg Bali” (2004,2005) untuk menyelamatkan Bali dari kebusukan dan kehancurannya. Namun, seperti dikatakan dalam buku ini, makna konotatif kata “ajeg”, cenderung menafikan keterbukaan, dialog produktif dan dinamika kebudayaan. Atas dasar itu saya menulis Buku “Bali Ajeg, Ketahanan Nasional Di Bali”, yang secara substansi menekankan, merawat Bali dengan konsep ketahanan atau resilience. Konsep ini adalah konsep dinamis. Konsep yang menuntut kondisi ulet dan tangguh, adaptif dan memiliki tingkat recovery yang baik ketika memperoleh tekanan, pembengkokan maupun pembusukan.
  • Agenda masyarakat dan Pemerintah Provinsi Bali seperti diurai dalam buku ini yang terus memperjuangkan otonomi daerah yang mengakui dan  mewadahi sifat spesifiknya sebagai provinsi pulau yang kecil, tidak memiliki sumber daya alam, namun berpotensi dalam pengembangan industri kreatif dan jasa pariwisata, adalah bagian dari konsep Bali Mandara yang tidak bisa dipisahkan dalam rangka menjamin kelangsungan hidup Bali kedepan. Konsep ketahanan ini juga sangat menekankan pentingnya menjaga keseimbangan, keselarasan dan keharmonisan antara kepentingan keamanan dan kesejahteraan.
  • Agenda pemerintah daerah dan masyarakat Bali untuk memperjuangkan otonomi khusus, memperjuangkan status sebagai daerah istimewa, atau sebutan lain yang bermakna pengakuan dan landasan hukum pewadahan perlakuan khusus terhadap Bali mesti terus disosialisasikan dan diperjuangkan. Begitu juga agenda-agenda lain yang juga sudah diungkap dalam buku ini seperti:
  • Momentum pembangunan Bali satu dasawarsa terakhir sepatutnya diteruskan oleh Pemerintah Provinsi dibawah kepemimpinan gubernur dan wakil gubernur selanjutnya, dengan mempelajari dengan saksama urgensi implementasi visi Bali Mandara dalam kerangka pembangunan berkelanjutan.
  • Penyimpangan dalam penerapan kebijakan pembangunan di-masa-masa yang lalu sepatutnya menjadi pelajaran berharga, betapa Bali memerlukan suatu Grand Design Pembangunan dengan visi yang kuat dan implementasi yang taat asas.

Bab III Bali Mandara, Tatanan dalam Keseimbangan Baru

Tanggapan:

  • Bali Mandara, Tatanan dalam Keseimbangan Baru, sejatinya berangkat dari teori Ketahanan Nasional sebagai konsepsi yang sangat menekankan keseimbangan, keselarasan dan keharmonisan antara pembangunan untuk kepentingan keamanan dan kepentingan kesejahteraan.
  • Sejak awal dilaksanakan program Bali Mandara yang bersamaan dengan dilaksanakannya juga program pengukuran ketahanan nasional berbasis data provinsi oleh Lemhannas RI, seluruh program Bali Mandara dapat diikuti perkembangannya sehingga laboratorium itu dapat dikatakan sebagai kendali pembangunan di tingkat provinsi yang diawaki oleh Bapedda Bali.

Bab IV  Program unggulan Bali mandara

Tanggapan:

  • Program unggulan ini tetap harus dikaitkan dengan hasil Labkurtannas Lemhannas RI yang sudah bekerja sama dengan Provinsi Bali dalam menemukan isu-isu strategis yang harus ditangani Bali dalam pembangunannya.
  • Hasil Labkurtannas dapat dijadikan sebagai acuan hasil evaluasi yang harus disempurnakan pada program-program berikutnya.

Bab V  Bali Mandara, Suara Masyarakat

  • Bali Mandara dipandang perlu tetap menjadi visi dalam pelaksanaan pembangunan Bali ke depan, karena disadari bahwa momentum perubahan yang diletakkan Gubernur Made  Mangku Pastika mesti dilanjutkan agar idealisasi dan cita-cita  sosial masyarakat Bali itu dapat diwujudkan.

Tanggapan:

  • Yang perlu mendapat perhatian dan penyadaran adalah:
  • Bali Mandara tetap menjadi visi, semata-mata karena Bali Mandara adalah sebuah nilai (instrinsik) orisinil Bali, yang didalamnya terkandung petunjuk untuk menjalani kehidupan kedepan yang berdasarkan nilai-nilai luhur kehidupan masyarakat Bali berbasis agama Hindhu. Nilai-nilai instrinsiknya inilah yang harus terus dijaga dan dipertahankan untuk menghindari Bali kehilangan “Taksu”[4] > ini bisa dilaksanakan dengan local genius “Jengah” yang perlu terus dirawat sebagai bahan yang perlu ditransformasikan ke generasi penerus Bali dengan berpedoman pada peta pikir diatas.
  • Keberlangsungan sebuah nilai justru terletak pada kesanggupannya untuk menterjemahkan nilai instrinsiknya kedalam nilai instrument dan praksis yang memadai dalam bentuk perubahan-perubahan yang dinamis.

 

Bab VI Penutup

Simpulan

  • Peranan pemerintah, terutama Pemerintah Provinsi dalam manajemen transformasi pembangunan Bali sangat penting. Pemerintah Provinsi Bali menjadi regulator, memainkan peranan memberi arah, rangsangan, menjadi fasilitator, memimpin  dalam perubahan, dan menjadi pendorong bagi masyarakat yang karena keterbatasan tertentu tertinggal dalam dinamika pembangunan.

Tanggapan:

  • Bali sangat memerlukan pemimpin penerus yang mampu terus menjaga kedinamisan itu agar nilai-nilai itu tertransformasi dengan benar.
  • Bila transformasi itu terbukti dapat dilakukan dilingkungan ASN Pemprov Bali, kedepan transformasi itu dapat dilakukan lebih massif kepada generasi penerus khususnya generasi muda., yang hanya bisa dilakukan apabila Bali memiliki transformer-transformer yang memadai yang akan memerankan diri sebagai panutan atau teladan.

 

Jakarta,  14 Juni 2017

[1] Lihat tulisan Putu Sastra Wingarta, 2007 Pokok-Pokok Pikiran Memenangkan Pilkada Bali Tahun 2008 Bagi Pasangan Calon Pastika-Ratmadi, Menuju Bali Mandara

[2] Lihat Buku Putu Sastra Wingarta, 2006, Bali Ajeg, Ketahanan Nasional di Bali

[3] Lihat Penelitian atau disertasi  Mayjen TNI (Purn) Putu Sastra Wingarta,2012, “Jengah dan Transformasi Nilainya: Studi Kasus Pada Pemerintah Daerah Provinsi Bali”

 

[4] Kehilangan Taksu sama dengan kehilangan charisma atau kehilangan getaran spiritual. Kondisi seperti inilah yang dapat diartikan sebagai kondisi spoiled

Iklan

About putusastrawingarta

Tenaga profesional LEMHANAS RI Bidang Kewaspadaan Nasional

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: